Menu

Mode Gelap

News · 12 Jul 2026 03:41 WIB ·

Cerita Pelaku Sejarah: Korban Kudatuli Asal Sukabumi, Moh. Idrus Said Lubis


Cerita Pelaku Sejarah: Korban Kudatuli Asal Sukabumi, Moh. Idrus Said Lubis Perbesar

JUANGTV.COM–Genap menginjak 30 Tahun cerita Sejarah tragedi Sabtu Kelabu 27 Juli 1996 – Juli 2026 dan Lahirnya PDI Perjuangan.

Peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli atau yang kini dikenal luas dengan sebutan Kudatuli, juga dikenang sebagai Sabtu Kelabu maupun Sabtu Berdarah, adalah salah satu peristiwa paling kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Terjadi pada Sabtu, 27 Juli 1996 di Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Jalan Diponegoro No. 58 Jakarta Pusat, peristiwa ini menjadi tonggak perpecahan sekaligus kelahiran kembali perjuangan demokrasi yang melahirkan PDI Perjuangan dan menjadi cikal bakal gerakan Reformasi.

Di antara ribuan kader yang hadir dan berjuang mempertahankan kebenaran saat itu, terdapat nama Moh. Idrus Said Lubis, kader asal Kabupaten Sukabumi yang turut menjadi saksi sekaligus bagian dari sejarah berdarah tersebut.

MENGULAS JEJAK SEJARAH

Akar peristiwa ini bermula pada tahun 1993, ketika Megawati Soekarnoputri secara de facto terpilih menjadi Ketua Umum PDI melalui Konferensi Luar Biasa (KLB) di Surabaya. Kemenangan ini membawa semangat baru bagi rakyat dan kader PDI, namun justru dianggap ancaman serius oleh rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto. Kehadiran Megawati mampu mengangkat kinerja partai secara signifikan, menjadi magnet dukungan rakyat, serta meningkatkan perolehan suara dan kursi di parlemen—hal yang dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan saat itu.

Untuk meredam pengaruh Megawati, rezim kemudian membentuk tandingan kekuatan politik, antara lain Soerjadi beserta kawan-kawan serta Tim 16 yang dipimpin tokoh seperti Fatimah Achmad dan Butuhutapeah. Langkah strategis pun disusun melalui penyelenggaraan Kongres IV PDI di Medan pada tahun 1996, yang kemudian secara aklamasi menetapkan Soerjadi sebagai Ketua Umum versi penguasa, semata-mata untuk meruntuhkan pengaruh kepemimpinan Megawati.

Kondisi ini melahirkan dualisme kepemimpinan PDI: Megawati Soekarnoputri hasil KLB Surabaya 1993 melawan Soerjadi hasil Kongres Medan 1996. Perpecahan tak hanya terjadi di kalangan elit, namun merambat hingga ke akar rumput—masyarakat dan kader terbelah menjadi kubu pro-Megawati dan kubu pro-Soerjadi. Di tengah belahan itu, Megawati tetap menjadi simbol harapan dan perlawanan bagi rakyat yang mendambakan keadilan.

KETERLIBATAN REZIM DAN KERASNYA PERLAWANAN

Pemerintah Orde Baru secara terang-terangan memfasilitasi Kongres Medan tersebut dan menolak mengakui kepemimpinan Megawati yang sah secara prosedural. Tindakan ini memicu kemarahan rakyat, yang kemudian bereaksi menuntut pembatalan hasil kongres yang dinilai penuh rekayasa.

Pada 20 Juni 1996, massa pro-Megawati menggelar aksi long march menuju DPR RI di Senayan, namun gerakan ini dihadang dan dibubarkan paksa oleh pasukan TNI di kawasan Gambir. Peristiwa ini melahirkan tradisi Mimbar Demokrasi di halaman Kantor DPP PDI, yang dijadikan ruang rutin bagi kader dari seluruh penjuru Indonesia untuk bersuara, menyatukan tekad, dan mempertahankan kebenaran dengan semboyan Satyam Eva Jayate (Kebenaranlah yang menang). Keberadaan Mimbar Demokrasi dengan jumlah massa yang terus bertambah inilah yang kemudian dijadikan alasan untuk melancarkan serangan pada 27 Juli 1996.

KRONOLOGI SABTU BERDARAH 27 JULI 1996

Sejak peristiwa di Gambir, kader dan pendukung Megawati terus beraktivitas di Mimbar Demokrasi untuk memperkuat barisan. Hingga pada malam menjelang 27 Juli, suasana tiba-tiba berubah hening dan akses jalan menuju kantor DPP PDI diblokade ketat.

Pagi harinya, ratusan orang berpakaian serba merah dengan ikat kepala merah tiba menggunakan truk, sambil berteriak lantang “Hidup Mega! Hidup Mega!”. Awalnya disambut seperti kedatangan kawan seperjuangan, namun ternyata mereka adalah pasukan kubu Soerjadi yang bergerak dengan kesiapan tempur dan sikap profesional layaknya pasukan militer. Mereka menuntut pengosongan gedung seketika.

Serangan pun dilancarkan secara membabi buta: massa melempar batu, membakar fasilitas gedung, sementara aparat keamanan justru menutup akses jalan dan membiarkan kekerasan berlangsung tanpa upaya penghentian. Bentrokan berdarah tak terelakkan, dan api kemarahan segera menyebar ke kawasan Salemba, Kramat, dan sekitarnya—kendaraan dibakar, bangunan dirusak.

Berdasarkan data resmi Komnas HAM, peristiwa ini menelan korban: 5 orang tewas, 149 orang luka-luka, 23 orang hilang, serta 124 orang ditangkap dan dipenjara secara sewenang-wenang. Di antara mereka yang berjuang dan terluka adalah Moh. Idrus Said Lubis, kader asal Sukabumi yang turut mempertahankan kantor DPP PDI hingga titik darah penghabisan.

JEJAK PERJUANGAN DAN LAHIRNYA PDI PERJUANGAN

Tragedi Kudatuli menjadi pemisah sejarah yang tajam:

1. Lahirnya PDI Perjuangan: Setelah peristiwa berdarah itu, PDI resmi terpecah. Pada 14 Februari 1999, kubu Megawati mendeklarasikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) sebagai wadah baru yang setia pada cita-cita Bung Karno dan kedaulatan rakyat.

2. Simbol Perlawanan: Kudatuli membuktikan bahwa PDI Perjuangan lahir dari keringat, air mata, dan darah perlawanan terhadap otoritarianisme, yang semakin memperkokoh kepercayaan rakyat terhadap partai.

3. Pemicu Reformasi: Peristiwa ini membuka mata seluruh bangsa, menjadi salah satu pemicu utama semangat perubahan yang meletus pada gerakan Reformasi 1998.

WARISAN SEJARAH BAGI KADER DAN RAKYAT

Bagi seluruh kader, termasuk kader Sukabumi seperti Moh. Idrus Said Lubis, peristiwa 27 Juli bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan landasan pijakan yang tak boleh dilupakan:

Tetap setia pada amanat rakyat dan ajaran luhur Bung Karno

Menjaga persatuan, soliditas, dan kekompakan di tengah maupun di luar barisan

Selalu hadir di tengah masyarakat dan berani melawan segala bentuk ketidakadilan

Menjaga demokrasi agar tak kembali ke masa otoriter, serta menjaga marwah, martabat, kehormatan, tanggung jawab, dan disiplin partai dengan penuh tanggung jawab.

Sejarah mengajarkan: ketika rakyat bersatu dan bergerak di jalan kebenaran, tak ada kekuatan apapun yang mampu menghalanginya.

Inilah nama nama korban Kudatuli Asal kabupaten Sukabumi , telah tercatat

korban 27 Juli 1996 dari jumlah 124 yg di penjara dari Kabupaten Sukabumi

1. Ucok haris maulana yusup

2. Moh. Idrus said lubis

3. Noval adalah

4. Dedi wahyudi

5. Yogi Susilo

6. Deni Yusuf

Sumber berdasarkan Tulisan Moh Idrus Said Lubis pada Minggu (12/7/26)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Hadiri Perayaan Tahun Baru Islam 1448 H, di Cilele Sirnasari, Paoji Berpesan Warga Waspadai Perubahan Cuaca

11 Juli 2026 - 00:04 WIB

Rangkaian Peringatan Bulan Bung Karno di Cikidang, Aep: Jaga Kekompakan, Soliditas dan Selalu Dekat dengan Masyarakat

10 Juli 2026 - 12:09 WIB

Rangkaian Bulan Bung Karno 2026: PAC PDI Perjuangan Cicantayan Gelar Tawasul dan Doa Bersama

10 Juli 2026 - 11:32 WIB

Rapat Paripurna DPRD kabupaten Sukabumi: Fokus Agroindustri & Pariwisata Jadi Prioritas Anggaran 2027

10 Juli 2026 - 10:17 WIB

Luncurkan Gerakan Kader Berkepribadian, Berempati, dan Anti-Bullying: Perkuat Etika dan Kesehatan Mental Sebagai Pondasi Kekuatan Partai

7 Juli 2026 - 23:11 WIB

Peringati Haul ke-56 Bung Karno, PAC PDI Perjuangan Cikembar Gelar Tawasul dan Santuni Anak Yatim

6 Juli 2026 - 10:51 WIB

Trending di News