JUANGTV.COM – Yang dihadapi perempuan hari ini kadang mendapatkan perlakuan lebih berat. Dari mulai ada nya Penindasan diikuti kekerasan. Mental rusak. Ditambah fisik terluka. Mereka hidup dalam bayang-bayang maut. Kalau pun lolos dari siksaan fisik, mental pasti terguncang.
Tulisan ini tidak berkisah tentang perempuan lain. Tapi ini soal saya. Di mana saya mengalaminya sendiri. Ditindas. Diintimidasi. Dirusak. Namun akhirnya saya bisa berdiri dan bangkit kembali.
Semua berawal dari cinta. Cinta yang meyakinkan saya, bahwa dia adalah pria terbaik. Yang bisa membuat saya bahagia, melindungi secara fisik, dan membangun rumah tangga yang luar biasa.
Namun dugaan saya meleset. Manis di awal itu berubah menjadi pahit di perjalanan. Saya seperti terjebak dalam lingkungan yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Bapak dan Ibu tidak pernah menghardik, apalagi sampai menggunakan kekerasan untuk mendidik.
Tapi kali ini, kata-kata kasar yang merendahkan martabat saya sebagai perempuan hampir setiap hari terdengar di telinga. Pertengkaran kecil bisa menjadi petaka yang besar.
Awalnya saya berusaha berdamai dengan situasi. Memaklumi sikapnya seperti itu, mungkin karena tuntutan pekerjaannya yang berat. Garis komando membuatnya bertekuk lutut, tidak bisa melawan senioritas atau atasan, dan itu semua ia lampiaskan kepada saya.
Sampai di situ titik saya sadar. Apakah cinta ini bisa dipertahankan? Atau saya harus memilih jalan lain?
Perempuan memang makhluk yang lemah. Tapi tidak boleh dilemahkan. Atau merasa lemah tak berdaya. Melawan kekerasan itu harus dengan kepala tegak. Tidak boleh menunduk. Saya memilih menghadapinya. Walaupun pelipis saya merasakan dinginnya bedil, kaki ini tidak boleh mundur setapak pun.
Sesekali sempat terlintas rasa putus asa. Mungkin lebih baik memilih ikuti permainannya, membiarkan dia mengikuti naluri laki-lakinya.
Tapi lama kelamaan, siapa yang tahan? Saya bukan lagi menjadi perempuan istimewa baginya. Posisi saya tergantikan. Baginya, memberi hak saya sebagai pasangan telah menggugurkan kewajibannya. Di luar itu, saya tidak boleh menuntut apa pun darinya.
Betul kata pujangga. Cinta membuat buta. Tapi cukup buta mata. Tidak boleh buta hati. Biarlah saya tidak melihat kelakuannya di luar sana, tapi hati saya tetap melihat dan merasakan. Rasanya sia-sia cinta tulus yang sudah saya berikan selama ini.
“Sudah… sudah cukup Nisa. Sekarang waktunya kamu bersikap.”
Itu kata-kata motivasi yang selalu berputar di otak saya. Sebagai magnet mengumpulkan keberanian untuk melawan.
Saya memutuskan untuk berpisah. Inilah jalan terbaik. Tidak ada lagi kata-kata menyakitkan dan kekerasan fisik yang saya dapatkan. Saya ingin merajut masa depan yang baru.
Awalnya memang berat. Luka di tubuh bisa mengering dan sembuh. Tapi mental saya hancur. Trauma itu begitu mendalam.
Namun saya teringat perjuangan teman-teman sejenis. Yang sampai hari ini terus menangis, tidak mampu melawan. Mereka memilih pasrah, merasa penderitaan ini sebagai kutukan dan wajar mereka dapatkan.
Tulisan ini seperti menggores-gores luka lama dan berdarah lagi. Tapi saya memilih menulisnya. Mengikuti jejak Kartini, merangkai kalimat-kalimat jujur, membuktikan kepada dia bahwa saya tidak hancur.
Saya masih punya mimpi yang akan saya wujudkan. Agar ia tidak jumawa, bahwa nasib perempuan ada di tangannya. Suatu hari nanti, ia akan melihat seorang perempuan bertubuh mungil yang telah dia sia-siakan berdiri tegak. Memilih jalan hidup jauh dari dugaannya. Dan berikrar akan berjuang untuk perempuan-perempuan yang masih tertindas.
Selamat Hari Kartini, kaum ku.
Sumber realis Harnisa Desmiaty Suhendja ( NisaIcha)
OLEH NISA

