Sukabumi,JuangTV.Com-Soekarno, tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia, telah menunjukkan jiwa kepemimpinan dan nasionalismenya sejak usia muda. Jauh sebelum pidato-pidato monumentalnya menggema di seantero negeri, ia telah aktif dalam organisasi pemuda, menorehkan jejak perjuangannya dalam memperjuangkan kemerdekaan politik, ekonomi, dan sosial bangsa Indonesia.
Seperti di kutip dari link FB PDI Perjuangan tayang 20 Mei 2025, Perjalanan politik Soekarno dimulai dengan bergabungnya ia pada usia 16 tahun ke dalam Tri Koro Dharmo, sebuah perkumpulan politik yang didirikan pada 7 Maret 1915 di Gedung Stovia, Batavia. Organisasi ini, yang dibentuk oleh Satiman Wirjosandjojo, Kadarman, dan Soenardi Djaksodipoero, bertujuan mempersatukan para pelajar di Pulau Jawa. Tri Koro Dharmo, yang berarti “Tiga Tujuan Suci,” melambangkan cita-cita luhur kemerdekaan politik, ekonomi, dan sosial yang diidamkan Soekarno dan rekan-rekannya. Keikutsertaan Soekarno dalam Tri Koro Dharmo cabang Surabaya, saat ia menimba ilmu di HBS dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, menandai awal perjalanannya dalam kancah pergerakan nasional.
Pada tahun 1918, Tri Koro Dharmo bertransformasi menjadi Jong Java. Organisasi ini tidak hanya fokus pada politik, tetapi juga pada pelestarian dan pengembangan kebudayaan Jawa. Para anggota Jong Java aktif mempropagandakan kebudayaan Jawa, mempelajari tari-tarian tradisional, memainkan gamelan, dan menggelar berbagai pertunjukan. Mereka juga aktif dalam kegiatan sosial, mengumpulkan dana untuk pembangunan sekolah dan membantu korban bencana. Uniknya, karena minimnya anggota perempuan, Soekarno bahkan pernah berperan sebagai perempuan dalam sebuah pertunjukan, sebuah penampilan yang menuai pujian dan menunjukkan bakatnya dalam berorasi di hadapan publik. Soekarno sendiri mengenang, “Sambil memandangku di atas panggung para penonton pun memberikan komentarnya, bahwa aku memperlihatkan bakat besar untuk tampil di muka umum,” seperti yang dicatat dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.
Di dalam Jong Java, Soekarno menunjukkan keberaniannya dalam memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia. Dalam rapat pleno tahunan, ia menolak penggunaan bahasa Belanda dan mendorong penggunaan bahasa Jawa Ngoko (rendahan) untuk mempromosikan egalitarianisme di masyarakat Jawa. Ia juga mengusulkan agar majalah Jong Java diterbitkan dalam Bahasa Melayu, yang kelak menjadi Bahasa Indonesia.
Keteguhan Soekarno dalam memperjuangkan bahasa Indonesia juga terlihat dalam keikutsertaannya di Studieclub saat di HBS. Ia berani melawan usulan ketua Studieclub yang mewajibkan penguasaan bahasa Belanda. Dengan lantang, Soekarno berdiri di atas meja dan berpidato, “Tanah tumpah darah yang kita banggakan ini dulu pernah disebut Nusantara. Artinya, ribuan pulau-pulau, dan banyak di antara pulau-pulau ini lebih besar dari negeri Belanda.” Ia menegaskan pentingnya menguasai bahasa Indonesia terlebih dahulu sebelum mempelajari bahasa asing, dan menyarankan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa diplomatik.
Kisah Soekarno muda dalam Tri Koro Dharmo dan Jong Java menunjukkan komitmennya yang kuat terhadap kemerdekaan dan kebangkitan bangsa Indonesia, termasuk perjuangannya dalam memajukan dan memperjuangkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Perjuangannya sejak usia muda ini menjadi fondasi bagi perannya sebagai pemimpin bangsa di masa mendatang.

